13 Okt

KPU Kota Batu Ikuti Workshop Riset Kepemiluan Universitas Brawijaya

Batu, kpu-kotabatu.go.id – Hari ini (13/10), komisioner dan staf sekretariat KPU Kota Batu mengikuti workshop Riset Kepemiluan dengan Kritis dan Efektif, yang diselenggarakan oleh tim dosen pengabdian masyarakat program studi ilmu politik Universitas Brawijaya, yang bertujuan untuk penguatan internal kelembagaan KPU Kota Batu menjelang Pilwali Kota Batu Tahun 2017.

Dalam wawancaranya usai kegiatan workshop, Wawan Sobari, Ph.D, pembicara dalam acara tersebut, berpendapat bahwa Pilkada Batu 2017 lebih dinamis, karena meskipun belum ditetapkan, 4 bakal pasangan calon sudah menunjukkan bahwa gairah berdemokrasi diantara elit-elit politik di Kota Batu ini cukup tinggi. “Intinya adalah sebenarnya bahwa keberanian bersaing itu cukup tinggi. Itu menunjukkan dinamika dari sebuah demokrasi yang menurut saya sangat baik,” terangnya.

Terkait dengan money politic, Wawan mengatakan bahwa timnya telah melakukan riset pada bulan Juni 2016 yang hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 52% calon pemilih di Kota Batu menganggap praktik money politic atau mempengaruhi pemilih dengan uang adalah hal yang wajar. Akan tetapi berdasarkan survei tersebut diketahui bahwa money politic tidak efektif dilakukan, “artinya money politic yang dikeluarkan itu bisa saja besar, tetapi belum tentu bisa mempengaruhi pemilih di Kota Batu untuk memilih orang yang ataupun pihak yang memberi uang tadi,” jelas Wawan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua KPU Kota Batu, Rochani, berharap money politic tidak akan mempengaruhi pilihan masyarakat, dan menyampaikan bahwa KPU Kota Batu akan melakukan berbagai kegiatan untuk membangun kesadaran masyarakat. “Prinsipnya kita membangun kesadaran bahwa pimpinan kita nanti kedepan itu, jangan sampai kita beli dengan uang, Money politic tidak hanya tanggung jawab penyelenggara, tapi tanggung jawab seluruh pihak untuk bersama-sama menyadarkan tanpa money politic pun kita mampu memilih pemimpin yang qualified,” jelasnya.

Dalam Peraturan KPU Nomor 5 Tahun 2015, dijelaskan bahwa lembaga survei atau jajak pendapat adalah salah satu bentuk partisipasi masyarakat. Dalam penutupnya, Rochani menyampaikan bahwa KPU Kota Batu akan bersikap kritis terhadap hasil survei yang ada dan tetap menjaga independensi sebagai penyelenggara pemilu.

Komentar via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

43 + = 50